Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian mengubah lanskap pendidikan tinggi, termasuk cara mahasiswa belajar, mengerjakan tugas, hingga memahami materi perkuliahan. Namun, di tengah perubahan yang berlangsung cepat itu, sebagian mahasiswa dan institusi pendidikan dinilai masih bertahan dengan pendekatan pembelajaran konvensional.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan dunia pendidikan dalam merespons disrupsi teknologi. AI yang kini mudah diakses melalui berbagai platform digital telah menjadi bagian dari keseharian mahasiswa, mulai dari membantu pencarian referensi, merangkum materi, hingga menyusun draf tugas akademik.
Kondisi ini membuat proses belajar menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa ketergantungan berlebihan terhadap teknologi dapat menggeser esensi pembelajaran itu sendiri.
Pengamat pendidikan Adjat Wiratma menilai, masih banyak praktik pembelajaran di perguruan tinggi yang belum sepenuhnya menyesuaikan dengan perubahan perilaku belajar mahasiswa di era digital. Menurut dia, sejumlah metode pengajaran dan evaluasi masih berfokus pada hasil akhir, belum secara optimal menekankan proses berpikir kritis yang justru menjadi inti pembelajaran.
Padahal, kehadiran AI telah mengubah cara mahasiswa mengakses dan mengolah informasi. Dalam banyak kasus, mahasiswa kini dapat menyelesaikan tugas dalam waktu singkat dengan bantuan sistem kecerdasan buatan, tanpa melalui proses analisis yang mendalam.
Kondisi ini, kata Adjat, menuntut adanya penyesuaian kurikulum dan strategi pembelajaran di perguruan tinggi. Kampus didorong untuk tidak sekadar menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang penguatan kemampuan analitis, kreativitas, serta literasi digital mahasiswa.
Ia juga menekankan pentingnya peran dosen dalam mengarahkan penggunaan AI secara bijak. Teknologi tersebut, menurutnya, tidak dapat menggantikan proses belajar, melainkan hanya berfungsi sebagai alat bantu yang dapat memperkaya pemahaman apabila digunakan secara tepat.
Selain itu, integrasi AI dalam dunia pendidikan dinilai perlu dibarengi dengan penguatan etika akademik agar mahasiswa tetap menjunjung kejujuran intelektual di tengah kemudahan akses teknologi.
Dengan dinamika tersebut, tantangan utama pendidikan tinggi saat ini bukan lagi sekadar menyediakan akses teknologi, melainkan memastikan proses pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi pembentukan karakter dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.